J.M.G. Le Clezio: Terasing di Antara Ragam Budaya

Peraih Nobel Sastra tahun 2008. Lahir di Prancis dan penutur bahasa Prancis. Namun menyebut diri eksil lantaran empat generasi keluarganya hidup di Mauritius; dalam perpaduan budaya India, Afrika, dan Eropa.

Di antara deraan chaos gagasan dan pencitraan, manusia kiwari hidup dengan sedikit pilihan. Lalu, apa yang dapat disumbangkan oleh sebuah karya sastra? Ketika sekarang bukanlah era Sartre, Camus, dan Steinbeck dapat mengubah dunia lewat novel mereka. ”Peran karya sastra hari ini, bisa jadi, hanya sebagai gema atas chaos yang ada,” kata Jean-Marie Gustave Le Clezio.

Tiba-tiba nama pria kelahiran Nice, Prancis, 13 April 1940, itu menjadi gema lain lagi –yang tidak kalah pentingnya– di era chaos ini. Pengarang berdarah Inggris-Prancis yang hidup dalam skena kebudayaan Mauritius yang kental itu dinobatkan Akademi Swedia sebagai penerima Hadih Nobel Sastra 2008, Kamis pekan lalu.

Dalam keterangan resminya, Akademi Swedia menyebut Le Clezio sebagai ”seorang pengarang masa kini, dengan petualangan yang puitis dan kepuasan sensual, pengeksplorasi kemanusiaan yang ada di luar dan di bawah kuasa peradaban”. Dan Le Clezio menanggapi anugerah itu sebagai kehormatan besar.

Le Clezio menulis sejak berusia tujuh tahun. Pada saat itu, intensi petualangan Le Clezio jelas tergambar pada karangan kanak-kanaknya yang bertema laut. Pada usia delapan tahun, ia hijrah ke Nigeria, ikut ayahnya yang bertugas sebagai tim bedah Angkatan Darat Inggris.

Pada 1958, ia pindah ke Inggris hingga menyelesaikan kuliahnya di Universitas Bristol. Setelah itu, Le Clezio kembali ke Prancis untuk menyelesaikan studi tanpa gelarnya di Nice’s Institut d’etudes Litteraires. Selepas itu, hidupnya terus-menerus diwarnai perpindahan: dari Amerika Serikat, Thailand, Meksiko, Panama, dan negara-negara lainnya. Namun, 18 tahun terakhir ini, ia menetapkan tempat tinggalnya ”hanya” di New Mexico, Mauritius, dan Nice.

Dengan pola hidup seperti itu, wajar bila Le Clezio dikenal sebagai pengarang yang doyan berpergian dengan objek tulisan yang sangat luas dan eksploratif. Sementara itu, tema-tema karangannya kerap berbicara soal pengasingan, konflik kebudayaan, dan kenangan dalam sudut pandang kehidupan sehari-hari yang bersifat otobiografikal.

”Ketika menulis, saya berkehendak menerjemahkan hubungan saya dengan peristiwa-peristiwa dan keseharian,” kata Le Clezio dalam sebuah wawancara, sebagaimana dipublikasikan majalah Label France.

J.M.G. Le Clezio J.M.G. Le Clezio: Terasing di Antara Ragam Budaya

Nama Le Clezio mulai populer dalam lanskap literatur Prancis dan Eropa pada 1963. Ketika itu, manuskrip pertamanya dalam bahasa Prancis berjudul Le Proces-Verbal (The Interrogation) diterbitkan dan meraih Prix Goncourt dan Theophraste Renaudot Prize pada tahun yang sama. Ketika itu, usianya baru 23 tahun.

Jennifer Waelti-Walters, penulis biografi Le Clezio, menyebutkan bahwa pada saat itu kliennya terlihat, ”Sangat pemalu, tampan, tinggi, dan blonde.” Lepas dari itu, ”Dia seorang penutur cerita yang luar biasa memikat,” kata Jennifer dalam sebuah wawancara radio.

Periode produktif awal kepengarangan Le Clezio menunjukkan kecenderungan eksplorasi tema-tema kejiwaan dalam eksperimentasi bahasa dan gaya penulisan. Pada masa itu, publik mengenalnya sebagai pembaharu dan pemberontak. Ia juga diklasifikasikan sebagai pendatang baru dalam gerakan Nouveau Roman (Roman Baru), yang dipelopori Alain Robbe-Grillet.

Tapi, di antara keberpihakannya pada sastra kontemporer dan kegemarannya pada eksperimen, sesungguhnya Le Clezio juga menulis karya-karya bertema mitologi, filosofi, bahkan ekologi. Dan perubahannya kian tertandai pada akhir 1970-an. Eksperimen mulai ditinggalkan, kisah-kisah tentang kesakitan mulai dikurangi, berganti dengan cerita masa kanak-kanak, kisah masa remaja, dan perjalanan –yang dianggap ramah buat pembaca populernya.

Salah satu karya yang menunjukkan perubahan itu adalah novelnya berjudul Desert. Karya yang diterbitkan pada 1980 ini meraih Paul Morand Prize dari Akademi Prancis. Akademi Swedia, pemberi Hadiah Nobel, menyatakan bahwa karya itu memuat citra menakjubkan sebuah kebudayaan yang hilang di padang pasir Afrika Utara, yang bertolak belakang dengan Eropa di mata para imigran gelap.

Perubahan demi perubahan pada karya-karya Le Clezio membuat para kritikus sastra kesulitan mengklasifikasikan tulisannya dalam aliran sastra tertentu. Tentang itu, Le Clezio mengaku tidak terganggu. ”Saya tidak kesal sama sekali dianggap tidak terklasifikasi,” ujarnya.

Klasifikasi atas karya-karya ”setelah eksperimen” Le Clezio sesungguhnya bersifat bebas dari sekat-sekat, seraya menawarkan dialog antar-kebudayaan dan hubungan antar-ras, antar-bangsa. Horace Engdahl, Sekretaris Tetap untuk Komite Nobel Sastra, mengatakan bahwa para penulis hebat masa kini akan kian sulit dikenal berdasarkan ciri-ciri kewarganegaraannya.

”Mereka seringkali bekerja dalam keterasingan… dan menemukan rangsangan lewat peralihan cara pandang dari budaya asal mereka ke ragam budaya lainnya,” kata Engdahl, seperti dikutip Associated Press. Berangkat dari penilaian itu, Engdahl menyebut Le Clezio sebagai ”a great writer of variety”.

Le Clezio mengakui, sejak tinggal selama empat tahun (1970-1974) bersama suku Emberas di Panama, ia merasakan pandangan hidupnya berubah. Mulai gagasannya tentang dunia dan seni, caranya berinteraksi dengan orang, berjalan, makan, tidur, dan pandangannya tentang cinta. ”Bahkan cara saya bermimpi,” tutur Le Clezio. Pada saat yang sama, ia mendapati bahwasanya kebudayaan Barat terlalu monolitis.

Sampai sekarang, Le Clezio telah menulis lebih dari 30 karya (novel, esai, kumpulan cerita pendek, dan karya-karya terjemahan). Terakhir, novelnya berjudul Ritournelle de la faim (Same Old Story about Hunger-Kisah Sama tentang Kelaparan) diterbitkan pada tahun ini. Novel itu bercerita tentang Ethel, seorang gadis muda yang tumbuh besar di kalangan borjuis Prancis.

Sebagai penerima Nobel Sastra, Le Clezio berhak atas hadiah uang sebesar 10 juta kronor atau sekitar Rp 13,7 milyar. Hadiah ini akan diberikan pada saat penganugerahan, 10 Desember nanti. ”Saya merasa sangat terharu dan sangat emosional,” kata Le Clezio dalam sebuah konferensi pers, menanggapi pengumuman anugerah Nobel Sastra 2008 itu.

Apa yang akan disampaikan Le Clezio pada saat malam penyerahan anugerah Nobel Sastra nanti? Dalam sebuah wawancara sebelum namanya disebut sebagai penerima Nobel Sastra, Le Clezio menyiratkan keinginannya berbicara tentang perang yang menghilangkan nyawa anak-anak. Kenyataan yang menurut dia paling mengerikan di zaman ini.

Menurut Le Clezio, dalam begitu banyak persitiwa, nun di suatu tempat di Palestina, Afrika, atau Amerika Selatan, anak-anak meregang nyawa karena terjangan peluru. Namun orang-orang tidak pernah membicarakan hal itu. ”Karya sastra juga berperan mengingatkan masyarakat tentang tragedi ini dan menempatkannya sebagai perhatian utama,” ujarnya.

Bambang Sulistiyo

Artikel Terkait:

Sekilas Tentang Jamaluddin Al-Afghani
Mengenang Syekh Muhammad Abduh
Antara Darwin dan Gereja

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>