Menurut Hopkin (1973) laju pertumbuhan modal sendiri adalah selisih antara jumlah modal sendiri dengan modal sendiri sebelumnya dibanding dengan jumlah modal sendiri sebelumnya. Laju pertumbuhan modal sendiri merupakan pertumbuhan equity (modal sendiri) yang dipengaruhi oleh kemampuan menghasilkan laba perusahaan dengan menggunakan seluruh ekuitasnya dan kebijakan dividen yang dianut perusahaan.
Perusahaan yang mengharapkan laju pertumbuhan tinggi, harus menyediakan modal yang cukup untuk membiayai pertumbuhan yang diinginkan tersebut, lebih cepat laju pertumbuhan yang diinginkan makin besar kebutuhan dana untuk membiayainya. Proses pertumbuhan didasarkan pada ide dasar dalam teori modal, yang mencakup produktivitas modal, keputusan manajer untuk menunda atau tidak konsumsinya, dan financial leverage.
Modal yang produktif biasanya menggunakan penghasilan untuk ditanamkan kembali pada modal perusahaan, keuntungan setelah pajak atau earning after tax dapat digunakan untuk konsumsi atau ditanam kembali dalam perusahaan, maka keuntungan yang ditanamkan kembali dalam perusahaan akan memperbesar modal sendiri sehingga akan dapat memperbaiki Debt to Equity Ratio (DER) dalam arti bahwa bagian dari setiap satuan nilai uang modal sendiri dijadikan jaminan untuk keseluruhan utang akan menjadi lebih besar.





like this