Dengan berkembangnya terobosan teknologi kedokteran, bisa terjadi seorang anak memiliki lima orangtua sekaligus. Pertama, ayah dan ibu mandul yang akan menjadi orangtua yang mengasuh dan membesarkannya. Kedua, ayah dan ibu biologis pendonor sperma dan telur untuk membuahkan bayi tabung. Dan ketiga, seorang ibu sewaan yang dimintai tolong mengandungkannya di dalam rahimnya (surrogate mother). Sungguh fakta ilmiah ini bukankah berarti betapa sudah makin mekanisnya benih kehidupan menusia itu tercipta.
Di Australia kini makin banyak wanita yang enggan kawin, namun mendambakan anak. Bank sperma siap melayani permintaan donor sperma. Tinggal pesan stambon sperma yang diinginkan, lalu si wanita melakukan sendiri inseminasi calon benih dari pria yang tak dikenalnya cuma sebagai nomor stambon itu. Bukankah yang ini pun merupakan sebuah sosok perkawinan tanpa sentuhan emosi dan sangat mekanis. Tanpa nuansa kasih pula.
Secara metafisis konon selama berlangsungnya suatu proses pembuahan telah terjadi suatu getaran batin, gelombang- gelombang interaksi antar-dua insan yang saling menumpahkan rasa, dan konon pula membentuk pengalaman batin yang terekam dalam benih yang akan tumbuh. Jika ini bisa dibuktikan, betapa menentukan perbedaan anak yang lahir dari tumpahan kasih sayang dengan anak yang tercipta dari tabung, dari inseminasi, atau segala bentuk pembuahan yang serba mekanis dan kering muatan kasih sayang.
Lepas dari kemampuan dan teraihnya kemungkinan paling besar memperoleh bibit unggul dan menciptakan anak sesuai dengan harapan, belum tentu setiap orangtua cukup siap menerima kehadiran anak yang benihnya disumbangkan orang yang tak menyentuh kehidupan pribadinya. Sosok anak disisipi gen-gen bukan dari orang yang sehari-hari dicintainya dan dirindukannya. Ini barangkali yang kemudian bisa berkembang menjadi masalah.
Sejarah bayi tabung perdana dasawarsa 1970 telah banyak mencatat betapa secara naluriah anak dari buah proses bayi tabung ingin melacak siapa orangtua biologisnya, setelah tahu orangtua yang selama ini membesarkannya ternyata bukan yang mewarisi gen dalam tubuhnya. Sejak itu pula masalah hukum bermunculan, termasuk bagaimana tak terbendungnya emosi seorang ibu yang rahimnya disewa untuk mengandungkan sebuah benih. Secara naluri keibuan, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa bayi yang lahir dari rahimnya itu dan telanjur mengikat tali batinnya ternyata secara hukum bukan miliknya.
Kenyataan di atas ikut meneguhkan anggapan adanya getaran alam yang senada yang mudah bertaut di antara orang yang memiliki ikatan sedarah, seperti antar-saudara kandung, antara ibu dan anak, atau antar-anak kembar.
Sekarang makin nyata kita saksikan bagaimana mekanisme, proses, dan cara orang menemukan jodoh. Terasa betapa begitu sering kehilangan nuansa kemanusiaan. Mereka seakan sudah terjebak dalam perhitungan untuk memperlakukan suatu pertemuan menjadi sangat matematis. Seolah-olah jodoh bukan peristiwa alamiah yang mengadung substansi deterministik seperti diyakini banyak orang selama ini.
Kecenderungan orang sekarang mencari jodoh lewat komputer, umpamanya. Gejala ini timbul akibat begitu sempitnya dunia orang sekarang untuk memungkinkannya menemukan pilihan di lingkaran kungkungan kesibukannya. Kenyataan yang mereka hadapi dalam hidup kesehariannya ini telah memperkecil peluang mereka mendapatkan bukan Mr. atau Ms. Wrong sebagai calon suami atau bakal istri. Kebiasaan praktis mencari jodoh model begini sekarang sedang marak di kalangan generasi muda Jepang yang melihat kehidupan secara lebih pragmatis.
Biro jodoh di media massa kita pun sejak satu dasawarsa lalu dipenuhi pencari jodoh, yang bukan semata-mata berasal dari kategori orang yang di mata sosial dinilai tak laku. Banyak kalangan profesional memilih cara ini karena merasa dunia tempat kerjanya terlalu sempit untuk mendapat kemungkinan yang lebih besar memperoleh calon teman hidup yang mendekati pilihan idealnya.
Diawali dengan pengumpulan data pribadi. Data karakter, hobi, dan kekurangan-kelebihan pasangan tersimpan mana saja yang bersesuaian dan dinilai laik menjadi kandidat untuk si calon peminta. Baru kemudian mereka melakukan “copy darat”. Sehingga terasa sekali peran komputer sebagai mak comblang, yang lazimnya akan berpesan begini: Cocok lebih dulu, cinta belakangan. Sedangkan kata nenek kita dulu, cinta dulu, kecocokan belakangan. Tak jelas pilihan yang lebih idealis, dan mana yang lebih pragmatis.
Fenomena di atas melahirkan fakta bahwa visi orang sekarang terhadap cinta menjadi tak harus buta. Pengalaman kegagalan perkawinan generasi terdahulu, yang dituduh lantaran kawin cuma bermodalkan cinta, harus menjadi pelajaran mahal bagi orang sekarang karena ternyata cinta memang tak boleh buta dan kecocokan pribadi harus menduduki rating atas.
Berubahnya visi, sikap, dan pandangan orang sekarang terhadap perkawinan telah mengubah pula proses berpacaran, pola seksisme, dan kondisi subordinat kaum wanita di mata budaya pria. Harus diterima perubahan-perubahan sikap kaum wanita sekarang, yang kadang-kadang harus lebih berinisiatif mencari pria ideal semata-mata untuk membuat keadaan bahwa untuk suksesnya berjodoh, pihak wanita boleh tak pasif. Walaupun secara naluri kelelakian, kaum pria mungkin akan merasakan bahwa wanita yang seperti itu dikategorikan sebagai keagresifan yang tak bisa ditoleransi.
Struktur sosial yang lebih banyak populasi wanita laik kawin dibanding dengan pria laik kawin (low sex ratio), sebagaimana terdata di dalam masyarakat kita, juga turut menentukan bagaimana akan makin “agresif”-nya wanita di mata budaya pria, suatu kontranaluri yang bisa mengganggu pertemuan pria-wanita secara wajar dan dewasa. Termasuk kesan telah makin jual murahnya kaum wanita, lebih-lebih di lingkungan budaya patriarkat.
Upaya manusia untuk makin menyempurnakan substansi perkawinannya menuntut perenungan ulang. Malah, mungkin diperlukan sikap pencerahan bahwa manusia bukan sedang menghadapi mesin robot tubuhnya yang kehilangan sentuhan kemanusiaan. Bagaimana kita memanusiakan terobosan teknologi temuan manusia yang serba mekanis itu, seperti sekarang saat jumlah anak dan jenis kelamin anak yang kita maui bukan lagi milik para astrolog. Ternyata manusia sudah bisa merekayasa untuk menentukan lain dari ramalan. Termasuk hari, tanggal, bahkan detik anak lahir bisa diatur sesuai kepercayaan hitungan weton anak yang di kehendaki.
Agaknya sudah waktunya kita kembali pada pilihan hidup dengan sentuhan bernapaskan kemanusiawian semata. Karena, yang tengah berlangsung selama ini dalam mengorganisasikan kehidupan kita sendiri sudah makin dehumanistis.
Oleh: HANDRAWAN NADESUL, Dokter dan penulis buku




